Select Page

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan secara berapi-api mengkritik posisi utang pemerintah Indonesia dengan mengatakan bahwa pembayaran utang Rp400 triliun setiap tahun itu di luar batas karena sama dengan enam kali anggaran kesehatan. Benarkah demikian?

Mungkin kita belajar matematika dasar terlebih dahulu. Jika benar setiap tahun pemerintah mengeluarkan Rp400 triliun untuk membayar utang, maka itu sama dengan 3,6 kali jumlah anggaran kesehatan tahun 2018 (Rp111 triliun) yang sudah disetujui DPR. Jadi, mungkin Zulkifli belum menghitung dengan benar atau angka perkalian itu sengaja dibesar-besarkan untuk tujuan politik.

Kedua, data arus kas pembayaran utang pemerintah selama period 2012-2017 yang dibuat oleh Badan Keahlian Anggaran DPR berdasarkan data-data arus kas pemerintah menyajikan angka-angka menarik sebagai berikut:

Pembayaran kas untuk utang pemerintah pada tahun 2012, ketika Pak Zulkifli masih di kabinet SBY-Boediono sebagai menteri kehutanan, mencapai Rp174 triliun. Pada tahun itu, anggaran kesehatan Rp41.8 triliun. Itu berarti perbandingan antara pembayaran utang dengan anggaran kesehatan pada tahun 2012 = 4,16 kali. Toh waktu itu Pak Zulkifli tidak pernah berteriak bahwa utang pemerintah sudah di luar batas.

Kalau tidak puas, coba periksa tahun 2013, masih di zaman Pak SBY. Waktu itu, jumlah kas yang dipakai untuk membayar utang adalah Rp160 triliun, sedangkan anggaran kesehatan Rp48,3 triliun. Perbandingan = 3,3 kali.

Tahun terakhir presiden SBY, 2014, jumlah kas untuk pembayaran utang mencapai Rp237 triliun, sedangkan anggaran kesehatan Rp61,9 triliun. Perbandingan = 3,8 kali.

APBN 2017 menunjukkan pembayaran utang Rp263 triliun, sedangkan anggaran kesehatan Rp104 triliun. Dengan demikian rasionya = 2,5 kali.

Jadi apakah 3,8 kali dan 4,16 kali anggaran kesehatan di tahun 2014 dan 2012 itu lebih baik dibandingkan 3,6 kali yang dirata-ratakan di era Jokowi itu? Dari mana pula angka enam kali anggaran kesehatan yang disebut Zulkifli itu?

Oh, tentu dalam politik satu ditambah satu bukanlah dua. Bisa tiga atau enam. Atau meminjam slogan 2+2 = 5 yang dipakai di novel Nineteen Eighty-Four karya George Orwell. Kebenaran bukanlah fakta matematis, tetapi persepsi. Dalam konteksi itu, Zulkifli yang berada di kubu oposisi sedang membuat persepsi. Karena itulah masyarakat pemilih harus cerdas mencernai setiap perkataan politisi.