Select Page

Media seluruh dunia ramai-ramai melaporkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman adalah pembeli sesungguhnya dari lukisan Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci. Lukisan itu dibeli dengan harga yang sangat fantastis, US$450,3 juta atau sekitar Rp6,09 triliun (termasuk komisi sekitar Rp650 miliar untuk balai lelang Christie).

Harga itu mencetak rekor sebagai karya seni termahal yang pernah dilelang. Rekor itu sebelumnya dipegang Le femmes d’Alger karya Pablo Picasso (US$179,4 juta) atau Rp2,4 triliun.

Salvator Mundi adalah bahasa Latin untuk penyelamat dunia yang diyakini merujuk ke Yesus Kristus atau Nabi Isa. Lukisan itu diperkirakan dibuat Leonardo da Vinci sekitar tahun 1500 setelah masehi. Lukisan itu telah berpindah tangan berkali-kali. Sejumlah dokumen menyebut lukisan itu sempat dimiliki Raja Charles I (1600-1649), namun diperkirakan hilang selama period 1973-1900. Sir Charles Robinson diketahui membeli lukisan itu, yang semula diduga dibuat oleh pengikut Leonardo bernama Bernardino Luini. Namun setelah bertahun-tahun diteliti para ahli, Salvator Mundi diyakini sebagai karya asli Leonardo da Vinci seperti halanya The Last Supper, Mona Lisa, Saint John the Baptist,

Oleh balai lelang ternama Christies, penemuan lukisan Salvator Mundi dipandang sebagai ‘the greatest artistic rediscovery of the 21st century’.

Andrew Goldstein dan Julia Halperin membuat ulasan menarik mengenai laporan media seluruh dunia dalam tulisan mereka berjudul ‘5 Reasons Why It’s So Weird That a Little-Known Saudi Prince Bought the ‘Salvator Mundi’ yang dipublikasikan artnetnews.com pada 6 Desember 2017. Lima alasan yang membuat Goldtein dan Halperin kaget dengan identitas awal sang pembeli, Pangeran Bader, adalah:

Pertama, mengingat Bader sangat dekat dengan Putra Mahkota Pangeran Mohammed, keputusan itu merupakan sebuah pilihan yang aneh, mengingat kuatnya pengaruh Wahhabi di Arab Saudi.  Apalagai Salvator Mundi adalah lukisan tentang seorang nabi.

Kedua, waktu pembeliannya tidak tepat mengingat Pangeran Mohammed sedang mengkampanyekan transformasi yang radikal, termasuk menangkap sejumlah pangeran dan pejabat tinggi pemerintahan yang dituduh melakukan korupsi. Ketiga, balai lelang Christie tidak mengetahui Pangeran Bader. Menurut laporan New York Times, Bader tidak terdaftar sebagai peminat serius untuk lukisan itu sampai hari sebelum lelang dilakukan. Namun ketika Bader akhirnya menempatkan dana US$100 juta sebagai jaminan keikutsertaan dalam lelang, para penasihat hukum Christie terpaksa melakukan pemeriksaan. Keempat, Pangeran Bader diketahui tidak pernah terkait dengan lelang barang seni. Kelima, pembayaran harus dilakukan secara bertahap, walaupun awalnya sang pembeli berniat membayar sekaligus.

Karena itulah Goldstein dan Halperin bertanya apakah Pangeran Bader membeli lukisan tersebut sebagai wakil Putra Mahkota Pangeran Mohammed?

Nah, media di seluruh dunia hari ini menulis bahwa memang Pangeran Mohammed bin Salman-lah pembeli sebenarnya dari lukisan wajah Yesus Kristus itu. Balai lelang Christie menolak untuk mengkonfirmasi pembeli sesungguhnya dari Salvator Mundi dengan alasan perjanjian kerahasiaan.

Bila benar, pembelian itu tentu akan terus mengundang berbagai spekulasi terkait alasan Pangeran Mohammed membeli lukisan itu dalam konteks kampanyenya melakukan transformasi di Arab Saudi. Apakah pembelian itu malah akan memperkuat kelompok yang menentang kampanye perubahan dari sang pangeran? Mungkinkah Pangeran Bader mewakili pembeli lain yang merupakan lawan politik Pangeran Mohammed?