Select Page

Andai Pulau Bali, candi Borobudur, candi Prambanan, Danau Toba, Wakatobi, Komodo, taman laut Raja Ampat, Bunaken, Bromo, Nihiwatu, Orang Utan, dan Sabang berjarak satu-dua jam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, barangkali Indonesia sudah menerima empat juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) setiap bulan. Tetapi Tuhan YME menyebar mereka ke Sumatra, Bali, Jawa, Sulawesi, Flores, Sumba, Kalimantan, dan Papua yang tidak mudah ditempuh dalam satu kunjungan lima hari di Indonesia.

Bahkan untuk menjangkau Danau Toba, wisman yang terbang ke Kualanamu, Medan harus menempuh perjalanan darat lima-enam jam. Sebagian jalan tol yang menghubungkan Kualanamu dengan Tebing Tinggi memang sudah dibangun dan diresmikan Presiden Jokowi bulan lalu. Tetapi masih butuh tiga jam lagi dari Tebing Tinggi untuk mencapai Danau Toba. Memang jalan tol tersebut akan diperpanjang hingga Parapat, tetapi itu masih butuh dua-tiga tahun lagi.

Kendala itu mungkin terpecahkan sebagian. Presiden Jokowi kemarin meresmikan Bandar Silangit di Sumatra Utara sebagai bandara internasional sebagai upaya mendongkrak kunjungan wisatawan baik nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) ke Danau Toba. Jokowi berharap Danau Toba dapat menarik setidaknya satu juta kunjungan wisman setiap tahun mulai tahun 2019.

Tanda awalnya cukup baik. Menurut kepala bandara Silangit Hotasi Manalu, jumlah penumpang selama Januari-November 2017 telah mencapai 230,000 orang, sudah jauh melampaui total penumpang tahun lalu (153,000 orang). Maskapai penerbangan yang membuka penerbangan langsung ke Silangit terus bertambah, sehingga mestinya tidak sulit menembus 300,000 orang tahun depan karena Danau Toba telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 Bali Baru yang dikembangkan pemerintah. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah mempertajam lagi fokus pengembangan ke empat destinasi (Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo).

Perbaikan infrastruktur saja tidaklah cukup. Tentu para perencana dan pelaksana kebijakan telah belajar dari keberhasilan Pulau Dewata yang memiliki paket lengkap (hotel, atraksi seni budaya, alam, budaya melayani, permainan, kuliner, kebersihan, dll).

Walau masih terlalu dini untuk menilai, sebagian besar investor internasional mengapresiasi langkah pemerintah Jokowi menggenjot industri pariwisata yang diyakini sebagai kekuatan ekonomi Indonesia di masa depan. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk melampaui Thailand dan Malaysia yang saat ini dua-tiga langkah di depan kita.

Bila merujuk data World Travel & Tourism Council (WTTC), perjalanan (travel) dan wisata (tourism) menghasilkan US$7,6 triliun tahun lalu atau sekitar 10,2% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dunia. Sektor itu menyerap 292 juta tenaga kerja atau satu dari 10 lapangan kerja di seluruh dunia.

Thailand dan Malaysia merupakan dua negara tetangga yang boleh dibilang sudah menikmati manfaat dari tingginya kunjungan wisman. Thailand menerima hampir tiga juta kunjungan wisman setiap bulan, sedangkan Malaysia sudah di atas dua juta orang per bulan (rata-rata). Bagaimana dengan Indonesia?

Sampai tiga tahun lalu, Indonesia hanya menerima 700,000 kunjungan wisman setiap bulan. Baru tahun inilah Indonesia menerima rata-rata di atas satu juta kunjungan per bulan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kunjungan wisman 10.46 juta selama sembilan bulan pertama (Januari-September). Bila trend tersebut bertahan (tentu ada kemungkinan koreksi karena Gunung Agung di Bali) dalam periode Oktober-Desember, maka bukan mustahil Indonesia menerima 14 juta kunjungan wisman tahun ini, termasuk lebih dari satu juta yang masuk melalui Pos Lintas Batas (PLB). Tentu tidak fair bila kita tidak mengapresiasi pertumbuhan tersebut.

Patut pula diingat bahwa pariwisata adalah industri padat karya. Perkembangan pesat di berbagai destinasi wisata dalam beberapa tahun terakhir mungkin telah menjadi penyangga bagi lambatnya investasi baru di industri manufaktur atau volatilitas harga komoditas.

Presiden Jokowi, seperti biasa, memiliki ambisi yang sangat besar. Bukan cuma menggandakan menjadi 16 juta kunjungan dalam lima tahun pemerintahan, dia menetapkan target 20 juta kunjungan wisman pada tahun 2019. Itu sama dengan pertumbuhan 150% dalam lima tahun. Sebagian orang optimis bila melihat perkembangan tiga tahun terakhir, tetapi ada juga yang pesimis.

Mereka yang optimis, termasuk pelaku usaha di bidang perjalanan dan wisata, yakin perbaikan infrastruktur di berbagai wilayah akan meningkatkan daya tarik Indonesia yang memang telah memiliki keunggulan komparatif (alam, budaya, dan masyarakat) dibandingkan tetangga-tetangganya.

Tersambungnya pulau Jawa dengan jalan tol, misalnya, bukan saja meningkatkan perjalanan wisata wisnus, tetapi dapat membuat wisman lebih betah karena dapat mengunjungi lebih banyak tempat wisata. Pembangunan infrastruktur moderen seperti mass-rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), kereta api bandara (rail link), perluasan commuter line, kereta cepat (bullet train), pembangunan atau perluasan bandara, pembangunan atau perluasan tempat sandar kapal pesiar, dan seterusnya diyakini akan meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di dunia.

Sekali lagi, infrastruktur saja tidak cukup. Budaya bersih (terutama WC umum, tempat sampah), misalnya, sangatlah penting dikembangkan. Budaya melayani juga perlu diperbaiki di berbagai destinasi yang disebut 10 Bali Baru itu. Begitu juga pengaturan mengenai minuman beralkohol dan hiburan, peningkatan partisipasi masyarakat lokal di bisnis wisata, dst. Memang pada akhirnya mungkin terjadi segmentasi, termasuk apa yang disebut wisata halal. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah wisata terbukti menjadi sektor pendukung ekonomi yang sangat penting bagi tetangga kita Thailand dan Malaysia. Bukankah sudah saatnya Indonesia sebagai negeri dengan keindahan alam dan keragaman budaya, jumlah penduduk dan ekonomi terbesar di ASEAN mengalahkan mereka di sektor pariwisata?