Select Page

Unilever Indonesia (UNVR), perusahaan yang memproduksi berbagai macam kebutuhan rumah tangga, merupakan perusahaan terbesar kelima dalam hal nilai pasar di Bursa Efek Indonesia. Per 24 November 2017, nilai perusahaan itu mencapai Rp380 triliun, di belakang BCA, HM Sampoerna, Telkom, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Nilai pasar tersebut setara US$28 miliar, hampir 20% dari nilai Unilever Plc di New York Stock Exchange (US$154 miliar).

Unilever Indonesia kini lebih besar dari Astra Internasional (ASII) yang hanya bernilai Rp346 triliun, karena investor menghargai tinggi kinerja keuangan Unilever. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, Unilever Indonesia meraih laba bersih Rp5,23 triliun atau Rp581 miliar setiap bulan. Kalau tiga bulan terakhir tahun ini perusahaan mencetak laba seperti itu setiap bulan, maka Unilever bisa meraup laba sekitar Rp7 triliun, padahal modal perusahaan ini hanya Rp6,4 triliun. Jadi boleh dikatakan bahwa Indonesia merupakan tempat usaha yang paling menguntungkan bagi perusahaan multinasional ini.

Lalu Indonesia mendapatkan apa?

Tentu lapangan kerja tercipta. Ada 6,107 orang yang bekerja di Unilever Indonesia. Selama 9 bulan pertama 2017, Unilever mengeluarkan Rp1.3 triliun untuk mereka (termasuk direksi). Dalam satu tahun jumlahnya bisa mencapai Rp1,73 triliun atau kira-kira Rp283 juta per karyawan (rata-rata).

Tentu ada pembayaran pajak ke negara. Dalam sembilan bulan, Unilever membayar Rp1,81 triliun pajak penghasilan. Tentu ada kontribusi pajak tidak langsung lainnya dari berbagai produk dan jasa yang terkait produksi dan penjualan barang.

Unilever juga terus berinvestasi di sini. Hal itu bisa dilihat dari Rp1,22 triliun uang kas yang digunakan untuk membeli aset tetap selama sembilan bulan 2017, nyaris sama dengan periode yang sama tahun lalu.

Meskipun begitu, patutlah kita bertanya apakah Unilever tidak bisa memberi lebih kepada Indonesia, tempat yang memberinya begitu banyak keuntungan dalam bentuk dividen dan royalti?

Ekspor: Nilai ekspor Unilever Indonesia selama Januari-September 2017 hanya Rp1,83 triliun atau hanya 5,8% dari total nilai penjualan (Rp31,2 triliun). Nilai ekspor tersebut memang meningkat 13,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tetapi porsinya masih sangat kecil.

Coba bandingkan dengan Mayora Indah (MYOR), perusahaan nasional, yang mencatat nilai ekspor Rp6 triliun selama Januari-September 2017 atau 42% dari total nilai penjualan perusahaan. Atau produsen mie instant Indofood yang mencatat nilai ekspor Rp2,2 triliun dalam periode yang sama.

Sebagai perusahaan multinasional dengan operasi di seluruh penjuru dunia, berlebihankah meminta Unilever untuk mengekspor dan memperkenalkan lebih banyak produk Indonesia?

Dividen: Selama sembilan bulan pertama 2017, Unilever Indonesia membayar dividen ke pemegang saham sebesar Rp3,5 triliun. Berlebihankah bila meminta Unilever menanam kembali lebih banyak labanya di Indonesia dengan membangun fasilitas produksi baru untuk membuka lapangan kerja?

Royalti: Selain dividen, induk perusahaan Unilever di luar negeri menerima pembayaran jasa dan royalti sebesar Rp1,44 triliun selama sembilan bulan pertama 2017, lebih besar dari jumlah pembayaran kepada direksi dan karyawan (Rp1,3 triliun). Jumlah pembayaran royalti tersebut hanya sedikit di bawah jumlah pembayaran pajak kepada pemerintah Indonesia (Rp1,8 triliun). Mengingat royalti tersebut dipungut dari penjualan kotor perusahaan, maka besarannya mempengaruhi jumlah pembayaran pajak kepada negara. Berlebihankah bila pemerintah perlu mengkaji secara serius soal royalti ini, sehingga bisa mendapatkan lebih banyak bagi negara dari Unilever?