Select Page

Akhir-akhir ini kita sering membaca berita mengenai penutupan gerai ritel modern. Sebagian langsung mengambil kesimpulan mengenai lesunya perekonomian dan daya beli. Sebagian, termasuk ekonom Faisal Basri, menyalahkan para pengusaha sendiri yang salah perhitungan atau terlalu optimistis dengan kalkulasi pertumbuhan. Penulis tidak mampu membuat kesimpulan demikian. Di sini, penulis hanya ingin menampilkan perspektif lain yang mungkin luput dari perhatian.

Dalam tulisan ini akan digunakan data PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk yang mengembangkan jaringan ritel Alfamart baik milik sendiri maupun melalui sistem waralaba. Menarik untuk diperhatikan bahwa jumlah toko Alfamart telah meningkat pesat dari 2.266 outlet pada akhir tahun 2007 menjadi 13.376 outlet pada 30 September 2017.

Jumlah toko Alfamart milik sendiri meningkat dari 1.817 menjadi 9.840, sedangkan yang dimiliki para pemegang hak waralaba juga melesat dari 449 menjadi 3.536 toko.

Jumlah karyawan yang bekerja di Alfamart pun sudah meningkat dari 10.790 orang menjadi 47.310 orang dalam hampir satu dekade. Jadi, bahwa toko klontong dan tradisional pinggir jalan yang ditutup dalam periode itu, tidak mudah menciptakan lapangan kerja bagi 37.000 orang untuk satu perusahaan dalam waktu 10 tahun.

Coba perhatikan bahwa omzet Alfamart meningkat dari Rp6,06 triliun pada tahun 2007 menjadi Rp45,6 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Kalau selama Oktober-Desember 2017 jumlah omzet per bulan sama dengan sembilan bulan pertama, maka omzet Alfamart tahun ini mungkin akan menembus Rp61 triliun.

Tetapi coba perhatikan laba bersih perusahaan itu. Pada tahun 2007, dengan hanya 2.266 toko, Alfamart mencetak laba Rp126 miliar atau sekitar Rp55 juta per toko. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, Alfamart mencatat laba Rp97 miliar (kalau dibuat satu tahun sekitar Rp129 miliar), maka kemungkinan laba bersih per toko hanya Rp10 juta. Padahal omzet per toko naik dari sekitar Rp2,7 miliar 10 tahun lalu menjadi sekitar Rp4,5 miliar tahun ini.

Pertanyaannya, kenapa Alfamart terus menambah jumlah toko kalau untung per toko terus merosot? Apakah untuk menutup peluang bagi yang lain untuk masuk ke bisnis yang dikuasai bersama Indomaret (sebagai catatan, Indomaret mencatat omzet Rp47 triliun selama sembilan bulan pertama 2017, lebih besar dari Alfamart)? 7-Eleven sudah tutup. Hero Supermarket juga sudah menyerah dengan StarMart-nya. Tetapi yang lain tetap masuk ke bisnis ini, seperti Wings Group dengan FamilyMart, atau OKE-OCE Mart-nya Sandi Uno.

Mengapa pula orang masih mau membuka toko Alfamart dan Indomaret bila untung bersih per tahun hanya Rp10 juta? Apakah tidak ada bisnis lain yang lebih menguntungkan? Atau karena membuka toko itu paling gampang dilakukan ketimbang menanam cabe atau memelihara lele?

Tentu saja tidak bisa dipukul rata begitu saja. Ramayana Lestari (RALS), misalnya, terus mencatat peningkatan laba bersih dari Rp355 miliar tahun 2010 menjadi Rp408 miliar tahun lalu. ACE Hardware juga mencatat lonjakan laba bersih dari Rp178 miliar tahun 2010 menjadi Rp706 miliar tahun lalu. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, ACE Hardware sudah membukukan laba Rp526 miliar.

Matahari Departement Store juga mencetak laba Rp625 miliar tahun 2010 dan melonjak menjadi Rp2,02 triliun tahun lalu. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, laba bersih Matahari Department Stores sudah mencapai Rp1,5 triliun. Mitra Adiperkasa, induk dari Lotus dan Debenhams yang ditutup, juga mencetak laba Rp577 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Sebagai perbandingan, tujuh tahun lalu perusahaan ini hanya mencetak laba Rp201 miliar.

Riset kami terhadap Alfamart, Hero Supermarket, Matahari Department Stores, Mitra Adiperkasa, Ramayana, ACE Hardware, dan Matahari Putra Prima menunjukkan kenaikan jumlah karyawan sebesar 5,000 orang dalam sembilan bulan pertama tahun ini di berbagai perusahaan itu. Tentu ada yang mengurangi, tapi ada yang merekrut lebih banyak.