Select Page

Krisis memang seringkali memaksa manusia melakukan perubahan atau pembaharuan (reformasi). Kejatuhan harga minyak mentah (crude oil) dunia dari US$109,45 per barel tahun 2012 menjadi US$49,49 per barel pada tahun 2015 dan selanjutnya jatuh lagi ke US$40,76 per barel tahun lalu memaksa negeri kaya minyak Arab Saudi untuk berubah.

Para elite negeri itu berpesta pora selama hampir satu dekade lonjakan harga minyak dari US$36 per barel tahun 2004 menjadi nyaris US$110 per barel tahun 2012. Tetapi kejatuhan harga minyak akibat penemuan teknologi baru di Amerika Serikat dan melambatnya perekonomian dunia ditambah kembalinya Iran ke pasar minyak dunia terbukti menyulitkan perekonomian negeri Raja Salman itu.

Indikator ekonomi makronya masih jelek, bahkan ketika harga minyak mulai pulih. Pertumbuhan ekonominya minus 1%, walaupun masih lebih baik dari negeri kaya minyak lainnya, Venezuela, yang nyungsep 18.6% atau Brazil yang cuma tumbuh 0,3%. Defisit anggaran pemerintah Arab Saudi mencapai 17,3%, lebih baik dibandingkan Venezuela, tetapi sangat jelek bila dibandingkan dengan Indonesia yang cuma defisit 2,46%.

Memang rasio utang pemerintah Arab Saudi terhadap GDP-nya hanya 13,1% dibandingkan Indonesia yang mencapai 27,9%, tetapi defisit transaksi berjalannya mencapai 3,9%, jauh lebih buruk dari Indonesia (1,8%). Tingkat pengangguran terbuka di negeri itu juga lebih tinggi (6%), walaupun masih lebih baik dibandingkan Brazil (12,4%) atau Mesir (12%).

Seperti yang anda lihat di grafik, rata-rata harga minyak OPEC tahun ini nyaris mendekati US$51 per barel, tentu jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Bahkan harga bulanan minyak OPEC saat ini telah menyentuh US$60,46 per barrel, tertinggi selama lebih dari dua tahun. Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga minyak akan menyentuh US$70 per barel akhir tahun ini mengingat harga minyak Brent telah menyentuh US$63,6 kemarin.

Namun, tidak ada yang berani memperkirakan harga minyak akan stabil di atas US$60 per barel atau meningkat lebih tinggi lagi dalam jangka panjang mengingat adanya kekhawatiran terhadap kenaikan volume produksi untuk memanfaatkan kenaikan harga, masih lesunya perekonomian dunia, perubahan ekonomi China, dan kemungkinan perubahan di masa depan, termasuk revolusi mobil listrik. Bila teknologi mobil listrik terus berkembang, maka harga jualnya akan semakin murah, sehingga mendorong perubahan pola konsumsi di dunia. Bila hal itu terjadi, tentu ketergantungan dunia terhadap minyak bumi (bensin dan diesel) akan berkurang.

Perkembangan energi baru dan terbarukan seperti energi matahari, angin, panas bumi, dan air tentu juga mempengaruhi pasar minyak dan gas dunia. Sebagai negara dengan cadangan minyak dan gas alam terbesar, tentu saja nilai masa depan Arab Saudi menjadi pertanyaan.

Menyedihkan bahwa ukuran ekonomi Arab Saudi saat ini hanya nomor 20 dunia (Indonesia No. 16), kira-kira separuh Australia dan kurang dari separuhnya Korea Selatan. Negeri itu gagal menikmati rezeki kenaikan harga minyak selama satu dekade. Hal itu barangkali yang meresahkan Putra Mahkota Arab Saudi yang dalam beberapa tahun terakhir gencar mengkampanyekan perubahan, termasuk sosial dan ekonomi.

Korupsi merupakan salah satu penyebab gagalnya Arab Saudi menjadi 10 besar ekonomi dunia. Indonesia juga mengalami hal yang sama selama beberapa dekade terakhir. Berbeda dengan korupsi berjamaah di Indonesia yang kemungkinan besar dikembalikan lagi ke ekonomi dalam bentuk konsumsi rumah tangga di dalam negeri (tentu sebagian elite menyembunyikan di Swiss atau negeri bebas pajak lainnya), uang korupsi dari para pangeran dan pejabat Arab Saudi kemungkinan besar dibelanjakan di luar negeri, termasuk di Indonesia.

Kita memahami kegiatan Pangeran Al-Waleed di sini, Indonesia. Tetapi kita belum mengetahui di mana Ibrahim al-Assaf, mantan menteri keuangan Arab Saudi yang ditangkap baru-baru ini dengan tuduhan korupsi perluasan Masjidil Haram, dan para koruptor lainnya membelanjakan uangnya. Sejauh ini lebih dari 200 orang sudah ditangkap. Kalau benar perkiraan bahwa jumlah uang yang dikorupsi lebih dari Rp1350 triliun, tentulah dampaknya terhadap perekonomian Arab Saudi sangat besar, mengingkat GDP negeri itu saja hanya sekitar enam kali lipatnya.

Mengingat peran para pangeran dan elite Arab Saudi yang sangat besar dalam berbagai perubahan sosial di negeri berpenduduk Muslim dunia, menarik untuk memperhatikan dampak reformasi yang dilakukan Raja Salman dan Putra Mahkotanya terhadap Indonesia.