Select Page

Alexis dalam bahasa Yunani berarti seorang penolong (helper) atau pembela (defender), begitu menurut situs behindthename.com. Di Indonesia, Alexis menjadi terkenal ketika menjadi topik perdebatan calon gubernur Jakarta beberapa bulan lalu. Bagi Anies Baswedan, yang akhirnya memenangkan pemilihan dan kini menjadi gubernur, Alexis bukanlah penolong atau pembela, karena itu harus dibinasakan. Sang Alexis bahkan diyakini sebagai biang kerok ‘kebobrokan moral’, dan bahwa sumbangan pajak atau retribusinya ke pemerintah daerah masuk kategori ‘uang haram’.

Bagi mereka yang bekerja di sana, Alexis pernah menjadi penolong rumah tangga. Bagi mereka yang ‘tersesat jiwa-nya’, barangkali Alexis pun sebagai ‘penolong’ karena menikmati bermacam ‘layanan’ yang ditawarkan. Tentu bagi mereka yang mengaku dirinya sebagai penjaga moralitas dan paling bermoral, mereka yang tersesat itu sudah pasti masuk neraka, dan bahwa sumbangan mereka secara tidak langsung ke pemerintah daerah selama ini (yang mungkin juga berujung ke sumbangan-sumbangan ke lembaga penjaga moralitas) tidak akan dilihat sebagai kebaikan oleh Sang Maha Penjaga Semesta.

Seorang yang pernah menikmati layanan Alexis secara berkelakar mengatakan “harusnya Pak Anies tidak usah buru-buru menutup, mungkin kasih waktu beberapa minggu untuk ‘cuci gudang’…jadi kita-kita yang tidak bermoral ini bisa menikmati harga diskon. Wong Lotus dan Debenhams saja ramai waktu cuci gudang.”

Tentu setelah ini mungkin masih ada episode lain di pengadilan tata usaha negara. Kita sebagai penonton tentu akan menikmati setiap pertunjukan yang disuguhkan. Bisa jadi endingnya tidak seperti film Hollywood atau berjam-jam seperti film Bollywood.

Menutup Alexis tentu dipuji sebagai tindakan tepat dari seorang pemimpin yang juga ‘penjaga moralitas’. Tetapi tentu berabad-abad peradaban manusia telah mengajarkan kita bahwa tindakan asusila atau apapun istilahnya tidak berhenti di Surga Dunia-nya Jakarta itu. Mereka bisa dilakukan di semua tempat penginapan (hotel, apartemen, kost, dst), sedangkan marketing sudah banyak dilakukan ‘online’ melalui Twitter, Instagram, Facebook, WhatsApp, dst.

Bagaimana dengan mereka yang pernah mendapat ‘berkah gaji’ dari Alexis? Tentu sudah banyak Alexis lain yang siap menampung, atau mungkin membuka Alexa. Atau mungkin pindah ke tempat baru seperti ditawarkan Wagub Sandiaga Uno yaitu Hotel Syariah?

Apakah di hotel-hotel yang dikategorikan ‘halal’ tidak terjadi tindakah asusila, hanya Tuhan yang tahu. “Yang penting kan dress code-nya beda antara hotel umum dan hotel halal…Mereka yang sudah berkecimpung di dunia itu sudah paham soal itu,” kata seorang ‘aktivis’ (maksudnya aktif di dunia ‘bawah tanah’).

Wagub Sandi juga menawarkan mereka pindah ke ‘OKE-OCE’, yang tentu saja sudah dianggap menghasilkan ‘uang halal’. Apakah anda yakin bahwa seluruh uang retribusi yang diterima Pemda DKI itu adalah uang halal? Apa ukurannya? Apakah nanti diperlukan stempel halal di setiap hotel?

Memang susah kalau moralitas ukurannya sejengkal itu saja…Etika sebagai pembimbing moralitas tidak berkembang sama sekali. Misalnya para pejabat itu sering melanggar aturan lalu-lintas tetapi tentu tidak ada yang mengatakan mereka tidak bermoral…